herdermssingkil2

SINGKIL – Rabu, 13 Mei 2026, Jajaran pimpinan dan aparatur Mahkamah Syar’iyah Singkil mengikuti agenda penting guna memperkokoh ketangguhan mental dalam menjalankan tugas negara. Bertempat di ruang media center, Ketua MS Singkil bersama para Hakim, Panitera, Plh. Sekretaris, serta seluruh staf mengikuti bimbingan teknis secara daring bertajuk "Resiliensi Hakim dan Aparatur Peradilan Agama dalam Menghadapi Tekanan Psikologis dan Kompleksitas Perkara".

WhatsApp Image 2026 05 13 at 09.32.07 2

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama (Ditjen Badilag) Mahkamah Agung RI ini menjadi sangat krusial, mengingat beban kerja dan tanggung jawab moral yang dipikul oleh punggawa peradilan dalam melayani masyarakat pencari keadilan semakin dinamis.

WhatsApp Image 2026 05 13 at 09.32.07

Acara dibuka dengan sambutan hangat sekaligus instruktif dari Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama, Bapak Drs. H. Muchlis, S.H., M.H., selaku Ditjen Badilag, memberikan pesan mendalam mengenai pentingnya ketahanan psikologis bagi insan peradilan. Beliau menggarisbawahi bahwa resiliensi adalah perisai utama dalam menghadapi tekanan pekerjaan yang berat. Beliau berpesan agar setiap aparatur tidak hanya mengedepankan aspek hukum, tetapi juga menjadi pribadi yang tangguh dalam menghadapi tantangan, berempati dalam melayani, serta senantiasa memelihara rasa bahagia agar integritas tetap terjaga di tengah situasi sesulit apa pun.

Kemudan sambutan dari Sekretaris Ditjen Badilag, Bapak Drs. Arief Hidayat, S.H., M.M., yang menekankan pentingnya adaptasi organisasi dalam menghadapi tekanan eksternal. Beliau mendorong aparatur peradilan untuk menerapkan ilmu psikologi praktis demi menciptakan lingkungan kerja yang harmonis. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa hakikat pengabdian adalah bersyukur tanpa mengeluh serta memiliki mental yang tangguh untuk meraih kebahagiaan. Menanggapi tantangan psikologis terkait penempatan dan lingkungan kerja, beliau berpesan agar seluruh jajaran senantiasa menjaga tiga sikap utama: hati yang tenang, pikiran yang jernih, dan jiwa yang ringan agar selalu bahagia.

Sesi inti yang paling dinanti dipandu secara interaktif oleh Mochamad Mirza, S.Psi, M.Psi, Psikolog dari Biro Kepegawaian Mahkamah Agung RI. Sebagai moderator, ia menjembatani diskusi mendalam mengenai fenomena stres kerja di lingkungan peradilan.

Puncak acara diisi oleh narasumber kenamaan, Prof. Dr (HC) Ary Ginanjar Agustian, Founder ESQ Corp. Dengan gaya penyampaian yang mencerahkan, Prof. Ary membedah konsep resiliensi melalui pendekatan Emotional and Spiritual Quotient (ESQ). Beliau menjelaskan bahwa:

  • Resiliensi bukan sekadar bertahan, melainkan kemampuan untuk "bangkit kembali" bahkan menjadi lebih kuat setelah menghadapi kesulitan.
  • Makna Tugas: Hakim dan aparatur harus melihat profesi mereka bukan sekadar pekerjaan administratif, melainkan pengabdian kepada Tuhan (ibadah).
  • Manajemen Tekanan: Teknik mengelola emosi saat menghadapi perkara yang kompleks agar tidak berdampak buruk pada kehidupan pribadi dan kualitas putusan.

Kehadiran pimpinan MS Singkil secara lengkap dalam kegiatan daring ini menunjukkan komitmen institusi dalam mendukung program prioritas Mahkamah Agung dalam hal pengembangan SDM yang unggul secara intelektual dan stabil secara mental.

Ketua MS Singkil menyatakan bahwa materi yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi di lapangan. Tantangan geografis dan beban perkara yang variatif di wilayah Aceh Singkil menuntut setiap personel memiliki "otot mental" yang kuat.

Melalui seminar daring ini, diharapkan seluruh jajaran Mahkamah Syar’iyah Singkil dapat menerapkan nilai-nilai resiliensi dalam keseharian, sehingga mampu mewujudkan badan peradilan yang agung dan melayani dengan hati yang tangguh.